BAB
I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Pengaturan kebutuhan
cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit, paru-paru, dan
gastrointestinal kebutuhan cairan merupakan bagian dr kebutuhan dasar manusia
secara fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh
dengan hamper 90% dr total berat badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian
padat dr tubuh.
TUJUAN PENULISAN
1.
Mengetahui system tubuh yg berperan dlm
kebutuhan cairan dan elektrolit
2.
Mengetahui kebutuhan cairan tubuh bagi
manusia
3.
Mengetahui cara perpindahan cairan
4.
Mengetahui faktor yg berpengaruh dalam
pengaturan cairan
5.
Mengetahui Jenis cairan
6.
Mengetahui Gangguan atau masalah dalam
pemenuhan kebutuhan cairan
7.
Mengetahui Kebutuhan elektrolit
8.
Mengetahui Komposisi elektrolit
9.
Mengetahui Pengaturan elektrolit
10.
Mengetahui Jenis cairan elektrolit
11.
Mengetahui Gangguan atau masalah elektrolit
12.
Mengetahui Keseimbangan asam basa
a. Mengetahui Jenis asam basa
13.
Mengetahui Gangguan atau masalah keseimbangan
asam basa Mengetahu
14.
Mengetahui factor yg mempengaruhi kebutuhan
cairan dan elektrolit
15.
Mengetahui melakukan tindakan utk mengatasi
masalah gangguan dalam
pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit
RUMUSAN MASALAH
1.
Sistem-sitem apa saja yang ada pada
tubuh dalam kebutuhan cairan dan elektrolit
2.
Apa-apa saja kebutuhan cairan tubuh bagi
manusia
3.
Bagaimana cara perpindahan cairan dalam
tubuh
4.
Factor-faktor apa saja yang berpengaruh
dalam pengaturan cairan
5.
Apa yang disebut jenis cairan
6.
Apa yang disebut dengan gangguan/masalah
dalam pemenuhan kebutuhan cairan
7.
Apa saja kebutuhan Elektrolit itu
8.
Apa saja komposisi elektrolit itu
9.
Bagaimana pengaturan elektrolit
10.
Apa
saja jenis-jenis cairan elektrolit
11.
Apa saja gangguan / masalah elektrolit
12.
Bagaimana keseimbanagan asam basa itu
13.
Apa yang disebut dengan asam basa itu
14.
Apa saja gangguan/masalah keseimbangan
asam basa itu
15.
Apa saja factor yang mempengaruhi
kebutuhan cairan dan elektrolit
16.
Tindakan apa saja untuk mengatasi
masalah gangguan dalam pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit.
BAB
II
PEMBAHASAN
Kebuthan Cairan Tubuh
Pengaturan kebutuhan
cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh :
1.
Ginjal
Ginjal
merupakan organ yg memiliki peran cukup besar dalam pengaturan kebutuhan cairan
dan elektrolit. Ginjal berfungsi sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi
garam dalam darah, pengatur keseimbangan asam basa darah, dan pengaturan
ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
2.
Kulit
Merupakan
bagian penting dalam pengaturan cairan yg terkait dgn proses pengaturan panas.
3.
Paru-paru
Organ
paru-paru berperan dalam pengeluaran cairan dengan menghasilkan insensible
water loss 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dgn respons akibat
perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan (kemampuan bernapas), misalnya org
yg melakukan olah raga berat.
4.
Gastrointestinal
Gastrointestinatal
merupakan organ saluran pecernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan
melalui proses penyerapan dan
pengeluaran air.Dalam kondisi normal,caitran yang hilang dalam system ini
sekitar 100-200 ml/ hari.
Pengaturan
keseimbangan cairan dapat melalui mekanisme rasa haue yang dikontrol oleh l
system endokrin(hormonal) yakni anti diuretic hormone(ADH),system aldosterom
prostaglandin dan glukokortikoid.
1.ADH
Hormon
ini memiliki pran dalam meningkatkan
reapsorpsi ai sehingga dapat mengendalikan keseibangan air alam tubuh.
2.Aldosteron
Horon
ini disekresi oleh kelenjar adrenal ditubulus ginjal dan berfungsi pada absorsi
natrium, dan system angiotensin rennin.
3.Prostaglandin
Prostaglandin
merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan yang berfungsi merespons
radang, pengendalian tekana darah, kontraksi uterus,dan pengaturan pergerakan
gastrointestinal. Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi
ginjal.
4.Glukokortikoid
Hormon
ini berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang menyebabakan
volume darah meningkat sehingga terjadi reyensi natrium.
Mekanisme rasa harus diatur dala
rangka memenuhi kebutuhan cairan dalam merangsang pelepasan rennin. Pelepasan
rennin tersebut dapat menimbulkan produksi angiotensin II yang merangasang
hipotalamus, sehingga menimbulkan rasa haus.
Kebutuhan
cairan Tubuh Bagi Manusia
Kebutuha
cairan merupakan bagian kebutuhan dasar manusia secara fisiologis kebutuhan ini
memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh dengan hamper 90% dari total berat
badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara
keseluruhan, presentase cairan tubuh berbeda berdasarkan usia . persentase caiaran
tubuh bayi baru lahir sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari
total barat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan.dan dewasa tua 45%
dari total berat badan. Selain itu, presentase jumlah cairan tubuh yang
bervariasi juga bergantung pada lemak dalam tubuh dan jenis kelamin. Jika lemak
dalam tubuh sedikit, maka cairan tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa mempunyai
jumlah cairan tubuh lebih sedikit disbanding pada pria, karena jumalah lemak
dalam tubuh wanita dewasa lebih banyak dibandingkan dengan lemak dal tubuh pria
dewasa.
Cara
perpindahan cairan
1.Difusi
Difusi
merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas,atau zat padat secara
bebas atatu acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel
membran. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjadi
melalui membrane kapiler yang permeabel. Kecepatan proses difusi bervariasi
bergantung pada factor ukuran molekul, konsentrasi,cairan, dan temperatur
cairan.
Zat
dengan molekul yang besar akan bergerak lambat disbanding molekul kecil.
Molekul akan lebih mudah berpindah dari larutan berkonsentrasi yang tinggi akan
mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.
2.
Osmosis
Osmosis
adalah proses perpindahan pelarut murni (seperti air) melalui membrane
semipermeabel, biasanya terjadi dari larutan denan konsentrasi yang kurang
pekat kelarutan dengan konsentrasi yang lebih pekat, sehingga laruta yang
berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang
berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya. Solute adalah zat
terlarut, sedangkan solvent adalah pelarutnya. Garam adalah solute, sedangkan air merupakan solvent.
Proses osmosis ini penting dalam pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan
intrasel. Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan
menggunakan satuan mol.
Natrium dalam NaC1 berperan penting dalam
pengaturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga jenis larutan garam
dengan kepekatan yang berbeda dan di dalamnya dimasukan sel darah merah, maka
laruta yang mempunyai kepekatan sama dengan sel tersebut yang akan seimbang dan
berdifusi terlebih dahulu. Larutan isotonic merupakan larutan yang mempunyai
kepekatan sama dengan larutan yang di campur. Larutan NaCl 0,9% merupakan
larutan yang isotonic karena larutan tersebut mempunyai kepekatan yang sama
dengan larutan dalam system vascular. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan
lebih rendah di banding dengan larutan intrasel.
3.
Transpor Aktif
Proses
perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transpor aktif. Transpor
aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis yang memerlukan
aktifitas metabolic dan pengeluaran energi untuk menggerakan berbagai materi
guna menembus membran sel.
FAKTOR
YANG BERPENGARUH DALAM PENGATURAN CAIRAN
Proses pengaturan
cairan dipengaruhi oleh dua factor yakni tekanan cairan dan membran
semipermeabel.
1.
Tekanan cairan. Proses difusi dan osmosis
melibatkan adanya tekanan cairan. Dalam proses osmosis, tekanan osmotik
merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan melalui membrane.
Bila terdapat dua larutan dengan perbedaan konsentrasi maka larutan yang
konsentrasi molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung disebut koloid.
Sedangkan larutan dengan kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka
larutanitu disebut kristaloid sebagai contoh, koloid adalah apabila protein
bercampur dengan plasma, sedangka larutan kristaloid adalah larutan garam
secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel, permiabel tidak
terjadi.prinsip tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian
cairan intravena.
Tekanan
hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang
tertutup.
2.
Membran semipermiabel merupakan
penyaring agar cairan yang ber molekul besar tidak tergabung. Membran
semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat
di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.
Jenis Cairan
1.
Cairan zat gizi(Nutrien)
Pasien
yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450kalori setiap hari.cairan
nutrient dapt di berikan melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen,
dan vitamin untuk metabolism. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200-1500 kalori per
liter. Cairan nutrient terdiri atas :
a. Karbohidrat
dan air, contoh :dekstrosa(glukosa), levulosa(fruktosa), serta invert sugar(½
dekstrosa dan ½ levulosa).
b. Asam
amino, contoh: amigen, aminosol, dan travamin.
c. Lemak,
contoh :lipomul dan liposyin.
2.
Blood volume expanders
Merupakan
jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah
atau plasma.hal ini terjadi pada saat pasien mengalami perdarahan berat, maka
pemberian plasma akan mempertahankan jumlah volume darah. jenis blood volume
expanders antara lain : human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang
berbeda.
Gangguan atau Masalah
Dalam pemenuhan Kebutuhan Cairan
1.
Hipovolume atau dehidrasi
Kekurangan
cairan eksternal dapat terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan
pengeluaran cairan. Tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dgn
mengosongkan cairan vascular. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan
interstisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini
terjadi pada pasien diare dan muntah. Ada 3 macam kekurangan volume cairan
eksternal atau dehidrasi, yaitu :
a. Dehidrasi
isotonic, terjadi jika kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit nya yg
seimbang.
b. Dehidrasi
hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang lebih banyak dari pada
elektrolinya.
c. Dehidrasi
hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan elektrolitnya dari pada
air.
Macam dehidrasi (kurang
volume cairan) berdasarkan derajatnya
a.
Dehidrasi berat
b.
Dehidrasi sedang
c.
Dehidrasi ringan, dengan terjadinya
kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L
2.
Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat
2 manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume
(peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial).
Normalnya cairan interstisial tidsk terikat dengan air, tetapi elastis dan
hanya terdapat di antara jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan
pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan mencekung setelah ditekan pada daerah
yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui
titik tekanan.
KEBUTUHAN ELEKTROLIT
Elektrolit terdapat
pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrient, dan sisa
metabolisme (seperti karbondioksida), yang semuanya disebut dengan ion.
Komposisi Elektrolit
Komposisi elektrolit
dalam plasma sebagai berikut :
natrium : 135-145 m Eq/L
Kalium : 3,5-3 m Eq/L
Klorida : 100-106 m Eq/L
Bikarbonat arteri : 22-26 m Eq/L
Bikarbonat vena : 24-30 m Eq/L
Kalsium : 4-5 m Eq/L
Fospat :2,5-4,5
mg/100ml
Pengaturan Elektrolit
1.
Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium
merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi dalam pengaturan osmolaritas dan
volume cairan tubuh. Natrium ini paling banyak pada cairan ekstrasel.
Pengaturan konsentrasi cairan ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron.
2.
Pengaturan kesimbangan kalium
Kalium
merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi
mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan
mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi aldosteron.
System pengaturannya melalui 3 langkah, yaitu :
a. Peningkatan
konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan produksi
aldosteron.
b. Peningkatan
jumlah aldosteron akan mempengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui
ginjal
c. Peningkatan
pengeluaran kalium ; konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel menurun.
3.
Pengaturan keseimbangan kalium
Kalsium
dalam tubuh berfungsi dalam pembentukan tulang, penghantar inpuls kontraksi
otot, koagulasi darah (pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pancreas.
Konsentrasi kalsium dalam tubuh diatur langsung oleh hormon paratiroid melalui
proses reabsorpsi tulang.
4.
Pengaturan keseimbangan magnesium
Magnesium
merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua dalam cairan intrasel.
Keseimbangannya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari
saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium.
5.
Pengaturan keseimbangan klorida
Klorida
merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi klorida dapat ditemukan
pada cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan
natrium yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan osmotic dalam darah.
6.
Pengaturan keseimbangan bikarbonat
Bikarbonat
merupakan elektrolit utama dalam larutan buffer (dapenyangga) dalam tubuh.
7.
Pengaturan keseimbangan fosfat (PO4)
Fosfat
bersama-sama dengan kalsium berfungsi dalam pembentukan gigi dan tulang. Fosfat
diserap dalam saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.
Jenis cairan elektrolit
Cairan elektrolit
adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap. Cairan
saline terdiri atas cairan isotonik, hipotonik, dan hiprtonik. Konsentrasi
isotonic disebut juga norma saline yang
banyak dipergunakan.
Contohnya :
1. cairan Ringer’s ,terdiri atas :Na⁺,K⁺,Cl⁻,dan
Ca2+.
2. Cairan Ringer’s laktat, terdiri atas
:Na⁺, K⁺,Mg2⁺,C1, c2,dan HCO3.
3. Cairan buffer’s,terdiri
atas:Na⁺,K⁺,Mg2⁺,Cl⁻, dan
HCO3⁻.
Gangguan atau masalah
kebutuhan elektrolit
1.
Hiponatremia
Merupakan
suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang di tandai dengan
adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/L, mual, muntah, dan
diare. hal tersebut menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut nadi cepat,
Hipotensi, konvulsi, dan membrane mukosa kering.
2.
Hipernatremia
Merupakan
suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi yang di tandai dengan
adanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit
membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu badan
naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 m Eq/L. kondisi demikian
dapat di sebabka oleh dehidrasi, diare, dan asupan air yang berlebihan
sedangkan asupan garamnya sedikit.
3.
Hipokalemia
Merupakan
suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah.Hipokalemia ini dapat terjadi
dengan sangat cepat. Sering terjadi pada pasien yang mengalami diare
berkepanjangan. Kondisi hipokalemia di tandai dengan lemahnya denyut nadi,
turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perutnya kembung,
lemah dan lunaknya otot, denyut jantungnya tidak beraturan (aritmia), penurunan
bising usus, serta kadar kalium plasmanya menurun hingga kurang dari 3,5 m
Eq/L.
4.
Hiperkalemia
Merupakan
suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi. Keadaan ini sering
terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolic, pemberian
kalium yang berlebihan melalui intravena.. hiperkalemia ditandai denga adanya
mual, hiperaktivitas system pencernaan, aritmia, kelemahan, jumlah urin sedikit
sekali, diare, adanya kecemasan dan iritabiliyas (peka rangsang), serta kadar
kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 m Eq/L.
5.
Hipokalsemia
Merupakan
kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah. Hipokalsemia di tandai dengan
adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam plasma
kurang dari 4,3 m Eq/L, serta kesemutan pada jari dan sekitar mulut. Keadaan
ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar gondok atau kehilangan
sejumlah kalsium karena seresi intestinal.
6.
Hiperkalsemia
Merupakan
suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah. Hal ini terjadi pada pasien
yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara
berlebihan. Hiperkalsemia ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi
otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari
4,3 m Eq/L.
7.
Hipomagnesia
Merupakan kekurangan kadar magnesium dalam darah.
Hipomagnesia di tandai dengan adnya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan
tangan, takikardi, hipertensi, disorientasi dan konvulsi, serta kadar magnesium
dalam darah kurang dari 1,3 m Eq/L.
8.
Hipermagnesia
Merupakan
kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah. Hal ini di tandai dengan adanya
koma, gangguan pernafasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5 m Eq/L.
KESEIMBANGAN ASAM BASA
Aktivitas sel tubuh
memerlukan keseimbangan asam basa. Tersebut dapat di ukur dengan pH (derajat
keasaman). Dalam keadaan normal, nilai pH cairan tubuh 7,35-7,45.
Keseimbangan asam bas
adapt dipertahankan melalui proses metabolisme dengan system buffer pada seluruh cairan tubuh dan melalui
pernapasan dengan system regulasi (pengaturan di ginjal). Tiga macam system
larutan buffer cairan tubuh yaitu larutan bikarbonat, larutan buffer Fosfat, dan
larutan buffer protein.
Jenis Asam Basa
Cairan basa (alkali)
digunakan untuk mengoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat di sebabkan karena
henti jantung dan koma diabetikum. Contoh cairan alkali antara lain natrium
(sodium laktat)dan natrium bikarbonat . laktat merupakan garam dari asam lemah
yang dapat mengambil ion H ⁺ dari cairan, sehingga
mengurangi keasaman (asidosis). Ion H⁺ di peroleh dari
asam karbonat (H2CO3), yang mana terurai menjadi HCO3⁻(bikarbonat)
dan H⁺.
Gangguan atau Masalah
Keseimbangan Asam Basa
1.
Asidosis respiratorik
Merupakan
suatu keadaan yang di sebabkan oleh karena kegagalan system pernapasan dalam
membuang karbondioksida dari cairan tubuh. Hal tersebut mengakibatkan
terjadinya kerusakan pada pernapasan, peningkatan PCO2 arteri di atas 45 mmHg,
dan penurunan pada pH yakni kurang dari 7,35. Keadaan ini dapat disebabkan oleh
adanya penyakit obstruksi, trauma kepala, perdarahan, dan lain-lain.
2.
Asidosis metabolic
Merupakan
suatu keadaan kehilangan basa atau terjadi penumpukan asam. Keadaan ini di
tandai dengan adanya penurunan pH kurang dari 7,35 dan HCO3 kurang dari 22
mEq/L.
3.
Alkalosis respiratorik
Merupakan
sutu keadaan kehilangan CO2 dari paru-pau yang dapat ,menimbulkan terjadinya
paCO2 arteri kurang dari 35 mmHg, pH lebih dari 7,45. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh karena adanya hiperventilasi, kecemasan, emboli paru-paru dan
lain-lain.
4.
Alkalosis metabolic
Merupakan
suatu keadaan kehilangan ion hydrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh
dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L dan pH arteri
lebih dari 7,45, atau secara umum keadaan asam basa dapat dilihat sebagai mana
tabel berikut :
Faktor yang Memengaruhi
Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
Kebutuhan cairan
elektrolit dalam tubuh di pengaruhi oleh factor-faktor :
1.
Usia. Perbedaan usia menentukan luas
permukaan tubuh dan aktivitas organ, sehingga dapat memengaruhi jumlah
kebutuhan cairan dan elektrolit.
2.
Temperature yag tinggi menyebabka proses pengeluaran
cairan melalui keringat cukup banyak,sehingga tubuh akan banyak kehilangan
cairan.
3.
Diet,apabila tubuh kekurangan gizi,maka
tubuh akan memecah cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh sehingga terjadi
pergerakan cairan dari interstisial ke interseluler yang dapat berpengaruh
pada jumlah pemenuhan kebutuhan cairan.
4.
Stress dapat mempengaruhi pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit melalui proses peningkatan produksi ADH karena
pada proses ii dapat meningkatkan metabolisme sehingga mengakibatkan terjadinya
glikosis otot yang dapat menimbulkan retensi natrium dan air.
5.
Sakit.pada keadaan sakit terdapat banyak
sel yang rusak,sehingga untuk
memperbaiki el membutuhkan proses pemenuhan kebutuhan cairan yang cukup.keadaan
sakit menimbulkan ketidak seimbangan system
dalam tubuh seperti ketidakseimbangan
hormonal yang dapat menggangu keseimbangan kebutuhan cairan.
Tindakan untuk
mengatasi masalah atau gangguan dalam pemenuhan
kebutuhan cairan dan elektrolit.
a.
pemberian cairan melalui infus
merupakan
tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus.
Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta
sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.
Persiapan
alat dan bahan :
a.
standar infus
b.
perangkat infus
c.
cairan sesuai dengan kebutuhan pasien.
d.
Jarum infus / abocath atau sejenisnya
sesuai dengan ukuran.
e.
Pengalas
f.
Tourniquet / pembendung
g.
Kapas alcohol 70%
h.
Plester
i.
Gunting
j.
Kasa steril
k.
Betadine ™.
l.
Sarung tangan
Prosedur
kerja :
a. Cuci
tangan
b. Jelaskan
pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
c. Hubungkan
cairan dan perangkat infus dengan menusukkan ke dalam botol infus (cairan).
d. Isi
cairan ke dalam perangkat infus dengan
menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian, kemudian
buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya.
e. Letakkan
pengalas.
f. Lakukan
pembendungan dengan tourniquet.
g. Gunakan
sarung tangan
h. Desinfeksi
daerah yang akan ditusuk.
i.
Lakukan penusukan dengan arah jarum ke
atas
j.
Cek apakah sudah mengenai vena dengan
ciri darah keluar melalui jarum infus / abocath.
k. Tarik
jarum infus dan hubungkan dengan selang infus.
l.
Buka tetesan
m. Lakukan
desinfeksi dengan betadine™ dan tutup dengan kasa steril.
n. Beri
tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester.
o. Catat
respons yang erjadi.
p. Cuci
tangan.
Cara
menghitung tetesan infus :
a. Dewasa:
(makro dengan 20 tetesan / ml.
Keterangan :
Faktor tetesan infus bermacam-macam, hal
ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes / menit, 15 tetes / menit dan 20
tetes / menit).
Contoh :
Seorang pasien dewasa diperlukan
rehidrasi dengan 1000 ml (2botol) dalam 1 jam maka tetesan per menit adalah :
b. Anak :
Contoh :
Seorang pasien neonatus diperlukan rehidrasi
dengan 250 µl dalam 2 jam, maka tetesan per menit adalah :
Jawab :
Jumlah tetesan (mikro) = 250 / 2 = 125
tetes / menit.
b.
Transfusi darah
Merupakan
tindakan memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan seperangkat alat
transfusi pada pasien yang membutuhkan darah. Tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
Persiapan
Alat dan Bahan:
a. Standar
infuse
b. Perangkat
transfuse
c. Nacl
0,9%
d. Darah
sesuai dengan kebutuhan pasien
e. Jarum
infuse/abocaht atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
f. Pengalas
g. Tourniquet/pembendugan
h. Kapas
alcohol 70%
i.
Plester
j.
Gunting
k. Kasa
steril
l.
Betadine
m. Sarung
tangan
Prosedur
kerja :
a. Cuci
tangan
b. Jelaska
pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c. Hubungan
cairan nacl 0,9% dan seperangkat tranfusi dengan menusukannya
d. Isi
cairan nacl 0,9%kedalam perangkat tranfusi dengan menekan bagian ruang tetesan
terisi sebagia.Kemudian buka penutup,hingga selang terisi dan udaranya keluar.
e. Letakkan
pengalas
f. Lakukan
pembendungan dengan tournquit
g. Gunakan
sarung tangan
h. Disenfeksi
daerah yang akan ditusuk
i.
Lakukan penusukan dengan arah jarum
keatas
j.
Cek apakah sudah mengenai vena dengan
cirri darah eluar melalui jarum infuse/abocath
k. Tarik
jarum infuse dan hubungkan dengan selang tranfusi
l.
Buka tetesan
m. Lakukan
desinfeksi dengan betadine dan tutup dengan kasa steril.
n. Beri
tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
o. Setelah
nacl 0,9% masuk sekitar ±15 menit,ganti dengan darah yang sudah disiapkan.
p. Darah
sebelum dimasukkan,terlebih dahulu cek warna darah identitas pasien,jenis
golongan darah,dan tanggal kedaluwarsa.
q. Lakukan
observasi tanda tanda vital selama pemakaian tranfusi.
r.
Catat respons terjadi
s. Cuci
tangan