Senin, 06 Mei 2013

cairan dan elektrolit



BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh ginjal, kulit, paru-paru, dan gastrointestinal kebutuhan cairan merupakan bagian dr kebutuhan dasar manusia secara fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh dengan hamper 90% dr total berat badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dr tubuh.

TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui system tubuh yg berperan dlm kebutuhan cairan dan elektrolit
2.      Mengetahui kebutuhan cairan tubuh bagi manusia
3.      Mengetahui cara perpindahan cairan
4.      Mengetahui faktor yg berpengaruh dalam pengaturan cairan
5.      Mengetahui Jenis cairan
6.      Mengetahui Gangguan atau masalah dalam pemenuhan kebutuhan cairan
7.      Mengetahui Kebutuhan elektrolit
8.      Mengetahui Komposisi elektrolit
9.      Mengetahui Pengaturan elektrolit
10.   Mengetahui Jenis cairan elektrolit
11.   Mengetahui Gangguan atau masalah elektrolit
12.   Mengetahui Keseimbangan asam basa
a.        Mengetahui Jenis asam basa
13.   Mengetahui Gangguan atau masalah keseimbangan asam basa Mengetahu
14.   Mengetahui factor yg mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit
15.   Mengetahui melakukan tindakan utk mengatasi masalah gangguan dalam 
pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit

RUMUSAN MASALAH
1.      Sistem-sitem apa saja yang ada pada tubuh dalam kebutuhan cairan dan elektrolit
2.      Apa-apa saja kebutuhan cairan tubuh bagi manusia
3.      Bagaimana cara perpindahan cairan dalam tubuh
4.      Factor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam pengaturan cairan
5.      Apa yang disebut jenis cairan
6.      Apa yang disebut dengan gangguan/masalah dalam pemenuhan kebutuhan cairan
7.      Apa saja kebutuhan Elektrolit itu
8.      Apa saja komposisi elektrolit itu
9.      Bagaimana pengaturan elektrolit
10.  Apa  saja jenis-jenis cairan elektrolit
11.  Apa saja gangguan / masalah elektrolit
12.  Bagaimana keseimbanagan asam basa itu
13.  Apa yang disebut dengan asam basa itu
14.  Apa saja gangguan/masalah keseimbangan asam basa itu
15.  Apa saja factor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit
16.  Tindakan apa saja untuk mengatasi masalah gangguan dalam pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit.

BAB II
PEMBAHASAN
Kebuthan Cairan Tubuh
Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur oleh :
1.      Ginjal
Ginjal merupakan organ yg memiliki peran cukup besar dalam pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit. Ginjal berfungsi sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur keseimbangan asam basa darah, dan pengaturan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.

2.      Kulit
Merupakan bagian penting dalam pengaturan cairan yg terkait dgn proses pengaturan panas.

3.      Paru-paru
Organ paru-paru berperan dalam pengeluaran cairan dengan menghasilkan insensible water loss 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dgn respons akibat perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan (kemampuan bernapas), misalnya org yg melakukan olah raga berat.

4.      Gastrointestinal
Gastrointestinatal merupakan organ saluran pecernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan melalui  proses penyerapan dan pengeluaran air.Dalam kondisi normal,caitran yang hilang dalam system ini sekitar 100-200 ml/ hari.
Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui mekanisme rasa haue yang dikontrol oleh l system endokrin(hormonal) yakni anti diuretic hormone(ADH),system aldosterom prostaglandin dan glukokortikoid.
1.ADH
Hormon ini memiliki  pran dalam meningkatkan reapsorpsi ai sehingga dapat mengendalikan keseibangan air alam tubuh.
2.Aldosteron
Horon ini disekresi oleh kelenjar adrenal ditubulus ginjal dan berfungsi pada absorsi natrium, dan system angiotensin rennin.
3.Prostaglandin
Prostaglandin merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan yang berfungsi merespons radang, pengendalian tekana darah, kontraksi uterus,dan pengaturan pergerakan gastrointestinal. Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.
4.Glukokortikoid
Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang menyebabakan volume darah meningkat sehingga terjadi reyensi natrium.
         Mekanisme rasa harus diatur dala rangka memenuhi kebutuhan cairan dalam merangsang pelepasan rennin. Pelepasan rennin tersebut dapat menimbulkan produksi angiotensin II yang merangasang hipotalamus, sehingga menimbulkan rasa haus.

Kebutuhan cairan Tubuh Bagi Manusia
Kebutuha cairan merupakan bagian kebutuhan dasar manusia secara fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh dengan hamper 90% dari total berat badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, presentase cairan tubuh berbeda berdasarkan usia . persentase caiaran tubuh bayi baru lahir sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total barat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan.dan dewasa tua 45% dari total berat badan. Selain itu, presentase jumlah cairan tubuh yang bervariasi juga bergantung pada lemak dalam tubuh dan jenis kelamin. Jika lemak dalam tubuh sedikit, maka cairan tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit disbanding pada pria, karena jumalah lemak dalam tubuh wanita dewasa lebih banyak dibandingkan dengan lemak dal tubuh pria dewasa.

Cara perpindahan cairan
         1.Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas,atau zat padat secara bebas atatu acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel membran. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjadi melalui membrane kapiler yang permeabel. Kecepatan proses difusi bervariasi bergantung pada factor ukuran molekul, konsentrasi,cairan, dan temperatur cairan.
Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat disbanding molekul kecil. Molekul akan lebih mudah berpindah dari larutan berkonsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.

2. Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan pelarut murni (seperti air) melalui membrane semipermeabel, biasanya terjadi dari larutan denan konsentrasi yang kurang pekat kelarutan dengan konsentrasi yang lebih pekat, sehingga laruta yang berkonsentrasi rendah volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent adalah pelarutnya. Garam adalah  solute, sedangkan air merupakan solvent. Proses osmosis ini penting dalam pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel. Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan mol.
   Natrium dalam NaC1 berperan penting dalam pengaturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda dan di dalamnya dimasukan sel darah merah, maka laruta yang mempunyai kepekatan sama dengan sel tersebut yang akan seimbang dan berdifusi terlebih dahulu. Larutan isotonic merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang di campur. Larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonic karena larutan tersebut mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam system vascular. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan lebih rendah di banding dengan larutan intrasel.

3. Transpor Aktif
Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transpor aktif. Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis yang memerlukan aktifitas metabolic dan pengeluaran energi untuk menggerakan berbagai materi guna menembus membran sel.

 
FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM PENGATURAN CAIRAN
Proses pengaturan cairan dipengaruhi oleh dua factor yakni tekanan cairan dan membran semipermeabel.
1.      Tekanan cairan. Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Dalam proses osmosis, tekanan osmotik merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan melalui membrane. Bila terdapat dua larutan dengan perbedaan konsentrasi maka larutan yang konsentrasi molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung disebut koloid. Sedangkan larutan dengan kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka larutanitu disebut kristaloid sebagai contoh, koloid adalah apabila protein bercampur dengan plasma, sedangka larutan kristaloid adalah larutan garam secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel, permiabel tidak terjadi.prinsip tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian cairan intravena.
Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup.
2.      Membran semipermiabel merupakan penyaring agar cairan yang ber molekul besar tidak tergabung. Membran semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.


Jenis Cairan
1.      Cairan zat gizi(Nutrien)
Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450kalori setiap hari.cairan nutrient dapt di berikan melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen, dan vitamin untuk metabolism. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien  dapat berkisar antara 200-1500 kalori per liter. Cairan nutrient terdiri atas :
a.       Karbohidrat dan air, contoh :dekstrosa(glukosa), levulosa(fruktosa), serta invert sugar(½ dekstrosa dan ½ levulosa).
b.      Asam amino, contoh: amigen, aminosol, dan travamin.
c.       Lemak, contoh :lipomul dan liposyin.

2.      Blood volume expanders
Merupakan jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma.hal ini terjadi pada saat pasien mengalami perdarahan berat, maka pemberian plasma akan mempertahankan jumlah volume darah. jenis blood volume expanders antara lain : human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda.


Gangguan atau Masalah Dalam pemenuhan Kebutuhan Cairan
1.      Hipovolume atau dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dgn mengosongkan cairan vascular. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan interstisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini terjadi pada pasien diare dan muntah. Ada 3 macam kekurangan volume cairan eksternal atau dehidrasi, yaitu :
a.       Dehidrasi isotonic, terjadi jika kehilangan sejumlah cairan dan elektrolit nya yg seimbang.
b.      Dehidrasi hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang lebih banyak dari pada elektrolinya.
c.       Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan elektrolitnya dari pada air.



Macam dehidrasi (kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya
a.       Dehidrasi berat
b.      Dehidrasi sedang
c.       Dehidrasi ringan, dengan terjadinya kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L

2.      Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat 2 manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume (peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normalnya cairan interstisial tidsk terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di antara jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah perifer atau  akan mencekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekanan.


KEBUTUHAN ELEKTROLIT
Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrient, dan sisa metabolisme (seperti karbondioksida), yang semuanya disebut dengan ion.

Komposisi Elektrolit
Komposisi elektrolit dalam plasma sebagai berikut :
natrium                            : 135-145 m Eq/L
Kalium                              : 3,5-3 m Eq/L
Klorida                              : 100-106 m Eq/L
Bikarbonat arteri             : 22-26 m Eq/L
Bikarbonat vena               : 24-30 m Eq/L
Kalsium                               : 4-5 m Eq/L
Fospat                                 :2,5-4,5 mg/100ml

Pengaturan Elektrolit
1.      Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi dalam pengaturan osmolaritas dan volume cairan tubuh. Natrium ini paling banyak pada cairan ekstrasel. Pengaturan konsentrasi cairan ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron.

2.      Pengaturan kesimbangan kalium
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi aldosteron. System pengaturannya melalui 3 langkah, yaitu :
a.       Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan produksi aldosteron.
b.      Peningkatan jumlah aldosteron akan mempengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui ginjal
c.       Peningkatan pengeluaran kalium ; konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel menurun.

3.      Pengaturan keseimbangan kalium
Kalsium dalam tubuh berfungsi dalam pembentukan tulang, penghantar inpuls kontraksi otot, koagulasi darah (pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pancreas. Konsentrasi kalsium dalam tubuh diatur langsung oleh hormon paratiroid melalui proses reabsorpsi tulang.
4.      Pengaturan keseimbangan magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua dalam cairan intrasel. Keseimbangannya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium.

5.      Pengaturan keseimbangan klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi klorida dapat ditemukan pada cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan osmotic dalam darah.

6.      Pengaturan keseimbangan bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama dalam larutan buffer (dapenyangga) dalam tubuh.
7.      Pengaturan keseimbangan fosfat (PO4)
Fosfat bersama-sama dengan kalsium berfungsi dalam pembentukan gigi dan tulang. Fosfat diserap dalam saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.

Jenis cairan elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap. Cairan saline terdiri atas cairan isotonik, hipotonik, dan hiprtonik. Konsentrasi isotonic disebut  juga norma saline yang banyak dipergunakan.
Contohnya :
1.      cairan Ringer’s ,terdiri atas :Na⁺,K⁺,Cl⁻,dan Ca2+.
2.      Cairan Ringer’s laktat, terdiri atas :Na⁺, K⁺,Mg2⁺,C1, c2,dan HCO3.
3.      Cairan buffer’s,terdiri atas:Na⁺,K⁺,Mg2⁺,Cl⁻, dan HCO3⁻.



Gangguan atau masalah kebutuhan elektrolit
1.      Hiponatremia
Merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang di tandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/L, mual, muntah, dan diare. hal tersebut menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut nadi cepat, Hipotensi, konvulsi, dan membrane mukosa kering.

2.      Hipernatremia
Merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi yang di tandai dengan adanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 m Eq/L. kondisi demikian dapat di sebabka oleh dehidrasi, diare, dan asupan air yang berlebihan sedangkan asupan garamnya sedikit.

3.      Hipokalemia
Merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah.Hipokalemia ini dapat terjadi dengan sangat cepat. Sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan. Kondisi hipokalemia di tandai dengan lemahnya denyut nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perutnya kembung, lemah dan lunaknya otot, denyut jantungnya tidak beraturan (aritmia), penurunan bising usus, serta kadar kalium plasmanya menurun hingga kurang dari 3,5 m Eq/L.

4.      Hiperkalemia
Merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi. Keadaan ini sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolic, pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena.. hiperkalemia ditandai denga adanya mual, hiperaktivitas system pencernaan, aritmia, kelemahan, jumlah urin sedikit sekali, diare, adanya kecemasan dan iritabiliyas (peka rangsang), serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 m Eq/L.

5.      Hipokalsemia
Merupakan kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah. Hipokalsemia di tandai dengan adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam plasma kurang dari 4,3 m Eq/L, serta kesemutan pada jari dan sekitar mulut. Keadaan ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar gondok atau kehilangan sejumlah kalsium karena seresi intestinal.

6.      Hiperkalsemia
Merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah. Hal ini terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan. Hiperkalsemia ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari 4,3 m Eq/L.

7.      Hipomagnesia
Merupakan  kekurangan kadar magnesium dalam darah. Hipomagnesia di tandai dengan adnya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi, disorientasi dan konvulsi, serta kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3 m Eq/L.

8.      Hipermagnesia
Merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah. Hal ini di tandai dengan adanya koma, gangguan pernafasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5 m Eq/L.

KESEIMBANGAN ASAM BASA
Aktivitas sel tubuh memerlukan keseimbangan asam basa. Tersebut dapat di ukur dengan pH (derajat keasaman). Dalam keadaan normal, nilai pH cairan tubuh 7,35-7,45.
Keseimbangan asam bas adapt dipertahankan melalui proses metabolisme dengan system  buffer pada seluruh cairan tubuh dan melalui pernapasan dengan system regulasi (pengaturan di ginjal). Tiga macam system larutan buffer cairan tubuh yaitu larutan bikarbonat, larutan buffer Fosfat, dan larutan buffer protein.

Jenis Asam Basa
Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat di sebabkan karena henti jantung dan koma diabetikum. Contoh cairan alkali antara lain natrium (sodium laktat)dan natrium bikarbonat . laktat merupakan garam dari asam lemah yang dapat mengambil ion H dari cairan, sehingga mengurangi keasaman (asidosis). Ion H di peroleh dari asam karbonat (H2CO3), yang mana terurai menjadi HCO3(bikarbonat) dan H.

Gangguan atau Masalah Keseimbangan Asam Basa
1.      Asidosis respiratorik
Merupakan suatu keadaan yang di sebabkan oleh karena kegagalan system pernapasan dalam membuang karbondioksida dari cairan tubuh. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kerusakan pada pernapasan, peningkatan PCO2 arteri di atas 45 mmHg, dan penurunan pada pH yakni kurang dari 7,35. Keadaan ini dapat disebabkan oleh adanya penyakit obstruksi, trauma kepala, perdarahan, dan lain-lain.

2.      Asidosis metabolic
Merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadi penumpukan asam. Keadaan ini di tandai dengan adanya penurunan pH kurang dari 7,35 dan HCO3 kurang dari 22 mEq/L.

3.      Alkalosis respiratorik
Merupakan sutu keadaan kehilangan CO2 dari paru-pau yang dapat ,menimbulkan terjadinya paCO2 arteri kurang dari 35 mmHg, pH lebih dari 7,45. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena adanya hiperventilasi, kecemasan, emboli paru-paru dan lain-lain.

4.      Alkalosis metabolic
Merupakan suatu keadaan kehilangan ion hydrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L dan pH arteri lebih dari 7,45, atau secara umum keadaan asam basa dapat dilihat sebagai mana tabel berikut :


Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
Kebutuhan cairan elektrolit dalam tubuh di pengaruhi oleh factor-faktor :
1.      Usia. Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh dan aktivitas organ, sehingga dapat memengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit.
2.      Temperature  yag tinggi menyebabka proses pengeluaran cairan melalui keringat cukup banyak,sehingga tubuh akan banyak kehilangan cairan.
3.      Diet,apabila tubuh kekurangan gizi,maka tubuh akan memecah cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh sehingga terjadi pergerakan cairan dari interstisial ke interseluler yang dapat berpengaruh pada  jumlah pemenuhan kebutuhan cairan.
4.      Stress dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit melalui proses peningkatan produksi ADH karena pada proses ii dapat meningkatkan metabolisme sehingga mengakibatkan terjadinya glikosis otot yang dapat menimbulkan retensi natrium dan air.
5.      Sakit.pada keadaan sakit terdapat banyak sel  yang rusak,sehingga untuk memperbaiki el membutuhkan proses pemenuhan kebutuhan cairan yang cukup.keadaan sakit menimbulkan ketidak seimbangan system  dalam tubuh seperti ketidakseimbangan  hormonal yang dapat menggangu keseimbangan kebutuhan cairan.

Tindakan untuk mengatasi masalah atau gangguan dalam pemenuhan  kebutuhan cairan dan elektrolit.
a.       pemberian cairan melalui infus
merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan  pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.

Persiapan alat dan bahan :
a.       standar infus
b.      perangkat infus
c.       cairan sesuai dengan kebutuhan pasien.
d.      Jarum infus / abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran.
e.       Pengalas
f.       Tourniquet / pembendung
g.      Kapas alcohol 70%
h.      Plester
i.        Gunting
j.        Kasa steril
k.      Betadine ™.
l.        Sarung tangan

Prosedur kerja :
a.       Cuci tangan
b.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
c.       Hubungkan cairan dan perangkat infus dengan menusukkan ke dalam botol infus (cairan).
d.      Isi cairan ke dalam perangkat infus  dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian, kemudian buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya.
e.       Letakkan pengalas.
f.       Lakukan pembendungan dengan tourniquet.
g.      Gunakan sarung tangan
h.      Desinfeksi daerah yang akan ditusuk.
i.        Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas
j.        Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui jarum infus / abocath.
k.      Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus.
l.        Buka tetesan
m.    Lakukan desinfeksi dengan betadine™ dan tutup dengan kasa steril.
n.      Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester.
o.      Catat respons yang erjadi.
p.      Cuci tangan.



Cara menghitung tetesan infus :
a.       Dewasa: (makro dengan 20 tetesan / ml.
Keterangan :
Faktor tetesan infus bermacam-macam, hal ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes / menit, 15 tetes / menit dan 20 tetes / menit).

Contoh :
Seorang pasien dewasa diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2botol) dalam 1 jam maka tetesan per menit adalah :

b.      Anak  :

Contoh :
Seorang pasien neonatus diperlukan rehidrasi dengan 250 µl dalam 2 jam, maka tetesan per menit adalah :
Jawab :
Jumlah tetesan (mikro) = 250 / 2 = 125 tetes / menit.

b.      Transfusi darah
Merupakan tindakan memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan seperangkat alat transfusi pada pasien yang membutuhkan darah. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.

Persiapan Alat dan Bahan:
a.       Standar infuse
b.      Perangkat transfuse
c.       Nacl 0,9%
d.      Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
e.       Jarum infuse/abocaht atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
f.       Pengalas
g.      Tourniquet/pembendugan
h.      Kapas alcohol 70%
i.        Plester
j.        Gunting  
k.      Kasa steril
l.        Betadine
m.    Sarung tangan
Prosedur kerja :
a.       Cuci tangan
b.      Jelaska pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c.       Hubungan cairan nacl 0,9% dan seperangkat tranfusi dengan menusukannya
d.      Isi cairan nacl 0,9%kedalam perangkat tranfusi dengan menekan bagian ruang tetesan terisi sebagia.Kemudian buka penutup,hingga selang terisi dan udaranya keluar.
e.       Letakkan pengalas
f.       Lakukan pembendungan dengan tournquit
g.      Gunakan sarung tangan
h.      Disenfeksi daerah yang akan ditusuk
i.        Lakukan penusukan dengan arah jarum keatas
j.        Cek apakah sudah mengenai vena dengan cirri darah eluar melalui jarum infuse/abocath
k.      Tarik jarum infuse dan hubungkan dengan selang tranfusi
l.        Buka tetesan
m.    Lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dengan kasa steril.
n.      Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
o.      Setelah nacl 0,9% masuk sekitar ±15 menit,ganti dengan darah yang sudah disiapkan.
p.      Darah sebelum dimasukkan,terlebih dahulu cek warna darah identitas pasien,jenis golongan darah,dan tanggal kedaluwarsa.
q.      Lakukan observasi tanda tanda vital selama pemakaian tranfusi.
r.        Catat respons terjadi
s.       Cuci tangan